Strategi Bersaing di Era MEA

Strategi Bersaing di Era MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menarik perhatian banyak orang di kawasan Asia Tenggara. Jika kita menelusuri trending topics di beberapa negara anggota ASEAN selama satu bulan terakhir, tampak penduduk di kebanyakan negara ASEAN memberi perhatian lebih terhadap pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas regional.

Masyarakat Filipina kini bersiap-siap menjadikan MEA sebagai cara baru untuk meningkatkan kesejahteraan dengan merantau ke negara-negara tetangga. Sebagai salah satu sumber penduduk perantau, Filipina melengkapi tenaga kerjanya dengan sertifikasi yang berlaku pada tataran regional dan global. Pemerintah negeri itu tampak serius menggarap berbagai jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk memastikan warganegara mereka dapat diterima bekerja di luar negeri, dalam masa MEA.

Langkah serupa juga berlangsung di Malaysia. Persiapan tenaga kerja lokal untuk bersaing di kancah regional melalui uji kompetensi sudah menjadi pekerjaan rutin. Bahkan, para investor di bidang perbankan tengah bersiap melebarkan sayapnya di beberapa negara tetangga, termasuk di Indonesia.

Thailand juga tidak mau ketinggalan menerapkan langkah yang serupa dengan Filipina dan Malaysia. Mengantisipasi pemberlakuan MEA, Thailand memperluas wahana investasi yang ada di negeri itu, mulai properti, hasil-hasil bumi, hingga potensi wisata lokal. Semua tak luput dari perhatian masyarakat. Tak hanya itu, kini penggunaan bahasa Inggris menjadi salah satu perhatian utama Thailand. Strategi menggunakan bahasa paling populer di dunia itu diyakini mampu mendekatkan Thailand dengan para calon investor.

Terlepas dari semua trending topics tersebut, satu hal yang menarik untuk dicermati adalah setiap negara tengah sibuk memikirkan strategi membangun daya saing di era perdagangan bebas ASEAN. Dalam perspektif manajemen, daya saing dapat tercipta pada beberapa elemen.

Pertama-tama pada sisi kepemimpinan biaya atau yang dikenal dengan istilah cost leadership. Meski sebagian kalangan menilai sisi ini sebagai sesuatu yang klasik, namun pada kenyataannya kepe-mimpinan dalam biayalah yang membuat produk-produk hasil bumi Thailand mendunia. Beberapa jenis hasil bumi,

bahkan, berhasil menggeser hasil bumi lokal Nusantara dari peringkat terlaris. Realitas tersebut mau tak mau membawa kita untuk memahami bagaimana kepemimpinan biaya dapa”t diciptakan.

Kunci utamanya terletak pada penciptaan produktivitas. Jika proses produksi dan distribusi berlangsung semakin produktif, maka semakin mudah bagi para pengelola untuk mengidentifikasi di titik-titik mana saja, efisiensi berpeluang terjadi. Saat kondisi tersebut berhasil dipotret, maka produsen memiliki peluang untuk menetapkan tingkat harga yang kompetitif.

Nasionalisme produk

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa di Indonesia, terkadang titik-titik itu merupakan suatu hal yang sistematis, karena turut ditentukan oleh pihak lain. Ambil contoh kenaikan biaya distribusi dan logistik, yang disebabkan oleh kualitas infrastruktur di tanah air yang sangat minim. Kondisi jalan yang rusak kerap kali memaksa pola distribusi menempuh jalan memutar yang Iebih jauh. Di satu sisi, hal tersebut akan membuat waktu distribusi semakin molor. Di sisi lain, situasi itu mengakibatkan peningkatan biaya hingga 22% lebih, seperti yang terjadi di sektor kebutuhan barang pokok.

Tentu, ini bukan pekerjaan rumah untuk produsen semata. Peran aktif pemerintah mutlak dibutuhkan agar implementasi strategi dapat berlangsung secara efektif. Lalu, bagaimana jika proses pembenahan infrastruktur membutuhkan waktu yang panjang?

Ada alternatiflain yang bisa ditempuh pebisnis, yaitu memperbanyak varian produk. Strategi ini bertujuan untuk melayani sejumlah pasar dalam waktu yang bersamaan. Tengoklah bagaimana produsen piranti teknologi dan informasi berhasil menerapkanĀ strategi ini.

Penambahan fitur dipandang sebagai jalan untuk memicu kinerja produk. Artinya, produk yang memiliki fitur yang lengkap diposisikan sebagai produk premium yang menyasar konsumen menengah ke atas. Alhasil, harga yang mahal akan dipersepsikan sebagai kualitas unggul. Demikian pula sebaliknya, pengurangan varian fitur identik dengan posisi produk yang lebih rendah. Sehingga dengan harga yang kompetitif diharapkan produk mampu diserap pasar secara optimal.

Hal lain yang membuat era perdagangan bebas regional menjadi sangat menantang adalah adanya perang citra, alias image yang dibangun dari nasionalisme produk. Dalam penelusuran lebih lanjut ditemukan bahwa saat ketegangan politik antar negara terjadi, maka posisi produk di pasar akan menjadi salah satu taruhannya. Tengoklah bagaimana beberapa merek dari Malaysia kesulitan untuk bertahan di pasar Indonesia. Situasi serupa berlaku juga bagi produk Indonesia di sana.

Strategi yang sangat kompleks dibutuhkan untuk memulihkan citra. Proses ini diyakini terjadi dalam jangka panjang dan kurang kondusif dalam era persaingan yang sengit. Untuk itu, satu cara yang perlu dikembangkan adalah memanfaatkan rasa nasionalisme bangsa.

Kini harus diakui bahwa . efektivitas pemasaran di Indonesia mulai didominasi oleh generasi Y. Karakter “cinta” internet dapat digunakan sebagai sarana untuk memperluas nasionalisme produk kepada seluruh komponen bangsa. Melalui cara ini, kecintaan terhadap produk-produk buatan Indonesia akan terbangun.

Tak hanya itu, mereka juga berpotensi menjadi duta-duta produk lokal pada tataran pergaulan internasional. Bahkan, kita bisa bisa berharap, dari merekalah dunia internasional mengenal kehebatan produk-produk nusantara. Artinya, bila langkah ini dapat diduplikasi secara efektif, niscaya produk-produk dalam negeri mampu berbicara dalam kancah global. Di situ efektivitas strategi bersaing dibuktikan.

Ikuti terus pembahasan wacana dan strategi bisnis dalam rubrik Dian/ Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM).