Mumpung Tak Ada Bapak Demokrat Banyak Lagak

Mumpung Tak Ada Bapak Demokrat Banyak Lagak

SESUAI petunjuk Ketum Partai Demokrat, Fraksi PD mestinya pro “Pilkada Langsung” dalam voting UV Pilkada di DPR. Tapi karena (konon) diiming-imingi posisi Ketua MPR, partai bintang mercy itu jadi mletho (melenceng) dari garis partai. Dengan walk out-nya Demokrat, KMP pun memenangkan opsi Pilkada lewat DPRD. Gara-gara ditinggal bapak pada berlagak, SBY pun kini banyak dikecam, dituduh telah main “drama” satu babak dengan akibat koalisi PDIP babak belur.

Pilkada lewat DPRD maupun langsung, semua mengandung mudlarat dan manfaat. Pilkada langsung, banyak rakyat yang ailatm jadi mata duitan. Pilkada lewat DPRD, justru DPRD-nya sendiri yang jadi mata duitan. Untuk mengantisipasinya, pemerintah bermaksud pemilihan gubernur, bupati dan walikota kembali ke DPRD. Tapi SBY selaku Ketum Partai Demokrat, karena melihat arah angin, belakangan condong ke Pilkada langsung.

Sebelum berangkat ke Washington untuk tugas kenegaraan, bapak presiden memberi petunjuk.

Dalam kapasitas sebagai Ketum tentunya, agar F-PD pro pilkada langsung jika terjadi voting di DPR. Tapi yang terjadi justru mletho, karena saat voting berlangsung justru mayoritas politisi Demokrat kabur, termasuk Beny Kabur Harman. Itu artinya kemenangan KMP yang pro Pilkada via DPRD berjalan mulus. Bayangkan, koalisi PDIP hanya didukung 135 suara, sementara KMP kantongi 226 suara.

Meski dari Washington SBY mengaku asli kecewa, tapi rakyat tetap mencurigai bahwa Ketum Demokrat itu sedang bermain sandiwara satu babak. Ada juga isyu, PD sampai “berkhianat” dariĀ garis partai karena diiming-imingi posisi Ketua MPR. Entah benar entah tidak, yang jelas di kala bapak sedang tidak ada di rumah, anak-anak pada berlagak.

Pilkada lewat DPRD merupakan kemenangan KMP, dan PKS pun menilai bahwa itu kemenangan rakyat. Rakyat yang mana? Benarkah politisi PKS, termasuk anggota KMP yang lain, sudah konsultasi dengan rakyatnya? Yang pasti, Demokrat sebagai pemegang kunci voting telah berhasil membalas “kesombongan” Megawati yang selama 10 tahun tidak mereken SBY selaku pribadi maupun Presiden RI.