Euforia Politik Berlanjut Di Negeri Ini

6

Bulan madu pelaku pasar dengan panggung politik di negeri ini agaknya belum usai. Kendati putusan Mahkamah Konstitusi yang menolak gugatan calon presiden Prabowo Subianto dan memastikan Joko Widodo sebagai Presiden RI yang baru jatuh sejak Agustus lalu, euforia di lantai bursa tetap berlanjut

Buktinya, pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rekor tertinggi baru di level 5.224,13, Rabu (3/9). Sayang, setelah itu indeks longsor oleh aksi ambil untung investor hingga ditutup di posisi 5.205,32, Kamis (4/9).

Pekan lalu memang cukup banyak kabar baik dari dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan tingkat inflasi Agustus melandai ke level 3,99%. Alhasil, Bank Indonesia (BI) optimistis inflasi 2014 bisa di bawah 5%. Di sisi lain, neraca dagang Juli lalu berhasil mencetak surplus US$ 123,7 juta karena kelesuan aktivitas impor nonmigas.

Akan tetapi, berita-berita bagus itu sejatinya belum cukup mampu mendorong pelaku pasar untuk all out di lantai bursa. Akibatnya, setelah IHSG mencetak rekor, pemodal buru-buru merealisasikan untung.

Ibnu Anjar Widodo, Kepala Riset Henan Putihrai Securities, menilai, pelaku pasar pada dasarnya masih menanti langkah lanjutan dari presiden terpilih. Di antaranya, susunan kabinet pemerintahan baru berikut lobi-lobi politiknya, juga isu penegak-an hukum untuk kasus korupsi. “Terutama juga, keputusan masalah

subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke depan,” kata Ibnu.

Isu BBM termasuk yang paling mendapat sorotan pelaku pasar. Ibnu menyebut, ada dua skenario yang terjadi terkait kebijakan BBM bersubsidi. Apabila harga BBM bersubsidi jadi dikerek atau pemerintah berani mengurangi subsidi, IHSG berpeluang melambung hingga ke level 5.950 pada akhir tahun ini. Lalu berlanjut ke level 6.350 pada tahun depan.

Akan tetapi, jika yang terjadi sebaliknya, yaitu harga BBM tidak jadi naik, IHSG hanya akan sampai di level 5.500 tahun ini dan 6.000 pada tahun depan. “Semisal subsidi BBM dicabut November nanti, investor asing akan meningkat kepercayaannya karena analisa mereka adalah untuk jangka menengah 3 tahun-5 tahun,” kata dia.

Antisipasi The Fed

Pendapat senada diungkap oleh Sebastian Tobing, Head of Research and Institutional Business Trimegah Securities. “Indeks bahkan bisa melambung lebih tinggi lagi jika pemerintah berani menghapus subsidi BBM sama sekali,” ujar dia.

Penghapusan subsidi BBM, kata Sebastian, akan bagus untuk kesehatan anggaran. Defisit bisa ditekan dan itu akan meningkatkan peringkat surat utang Indonesia ke depan. Imbasnya, aset dalam rupiah akan semakin diminati investor global.

Edwin Sinaga, pengamat pasar modal yang juga As sociate Director AAA Securities, menam- balikan.

kepercayaan investor asing pada pemerintahan baru masih tinggi. “Memang banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan Presiden Jokowi, tapi pasar sejauh ini masih percaya pemerintahan baru nanti bekerja keras,” kata dia.

Sejak awal tahun lalu, investor asing masih mencatat net buy sekitar Rp 56,25 triliun. Meski selera investor asing terhadap aset rupiah masih tinggi, ada alarm yang harus menjadi perhatian para pemodal, yaitu perkembangan pemulihan ekonomi AS. Ibnu menggarisbawahi, pemulihan ekonomi AS semakin meyakinkan. Alhasil, peluang kenaikan bunga The Federal Reserves, bank sentral AS, semakin besar.

Jika bunga The Fed naik, risiko terjadi capital outflow di pasar domestik sangat besar. “Kalau The Fed menyatakan siap menaikkan bunga, realisasinya biasanya 3 bulan-6 bulan kemudian,” kata Ibnu.

Agus Martowardoyo, Gubernur Bank Indonesia, sebelumnya memprediksi, The Fed kemungkinan akan mengerek suku bunga antara 100 bps hingga 115 bps pada semester 1-2015. Pelaku pasar harus mewaspadai hal itu agar tidak terjebak kondisi pasar yang longsor akibat hengkangnya dana asing.

Khusus untuk pekan ini, analis menilai, isu kabinet baru akan banyak memengaruhi warna bursa “Pasar menginginkan kabinet yang banyak diisi profesional ketimbang ketua partai politik,” tandas Edwin.

Kabinet yang kompak akan memberi peluang perea-lisasian agenda pembangunan yang mendesak, seperti pembangunan infrastruktur. Pasar berharap kabinet Jokowi cukup kuat sehingga stabilitas politik domestik di masa mendatang bisa terjaga.

Ibnu memproyeksikan, pekan ini IHSG bergerak di rentang 5.100- 5.270. Sedang Edwin memprediksi, IHSG bergerak antara 5.150-5.300. “Bisa tercipta rekor baru,” kata dia.

Parnington Julio, analis teknikal Batavia Prosperindo Sekuritas, memperkirakan, IHSG akan bergerak sideways dengan level 5.113-5.251. “Masih tren bullish tapi tertahan risiko koreksi dan konsolidasi,” kata dia. Selamat berburu cuah!