Dicari Bentuk Pendidikan yang Ideal

5

Dikti dan Ristek

JAKARTA-Presiden terpilih, Joko Widodo sedang menggodok kabinet untuk masa pemerintahannya lima tahun mendatang, jokowi, panggilan akrab Joko Widodo buka pintu soal nama-nama yang bakal duduk di kabinet. Beredar kabar, Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) akan merampingkan struktur kabinet. Belum pasti berapa jumlah menteri yang akan membantu Jokowi. Ada kementerian yang dipisah, dan akan ada pula yang digabungkan.

Ini termasuk salah satunya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendik-bud). Tim transisi, yang dibentuk Jokowi mengusulkan Kemendikbud dimekarkan menjadi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Pendidikan Tinggi. Pemekaran kementerian tersebut tentu menimbulkan pro-kontra di kalangan praktisi pendidikan.

Menurut Tim Transisi, Kementerian Pendidikan Dasar Menengah akan fokus pada pembangunan karakter, budi pekerti, norma, dan budaya bangsa. Maksudnya, agar sejak awal anak-anak mendapat nilai sangat kuat. Baru setelah itu ada penguatan di jenjang pendidikan tinggi melalui riset dan teknologi tepat guna.

Para praktisi pendidikan ikut urun suara terkait hal tersebut. Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta Abdul Munir Mulkhan mengatakan, bila benar Jokowi nantinya akan membelah Kemendikbud menjadi dua, haruslah fokus ke permasalahan pendidikan di masing-masing jenjang.

Lebih lanjut Munir mengatakan, untuk di bidang Pendidikan Tinggi dan Ristek, haruslah fokus ke penelitian inovatif yang bisa diaplikasikan. “Ini terutama di bidang energi dan pangan,” kata dia dalam diskusi panel Arsitektur Kabinet 2014-2019 dalam Perspektif Pendidikan Tinggi, Riset Teknologi, Inovasi, Ekonomi Kerakyatan, dan Pembangunan Pedesaan di Jogjakarta, (6/9).

Dalam paparannya pada diskusi tersebut, Munir menyebutkan di jenjang pendidikan tinggi masih perlu adanya pembenahan. Kualitas atau mutu perguruan tinggi di Indonesia masih kalah jika dibanding dengan negara tetangga, Malaysia dan Brunei Darussalam. Indikasinya sampai saat ini pemerintah masih mengimpor bahan pangan dari luar negeri. “Kita tidak bisa menyediakan pangan dan buah-buahan, nah di mana peran perguruan tinggi?” kata Munir.

Menurut dia, pembelajaran di Indonesia masih terlalu mekanik. Siswa atau mahasiswa tidak belajar menggembangkan teori, tetapi menggunakan teori. Seharusnya, ada semangat untuk meneliti dan membuat teori baru atau mengembangkan teori

yang sudah ada. Ditambah lagi, penelitian sekarang ini tidak sesuai dengan problem yang dihadapi oleh publik.

Munir mengatakan, seharusnya pendidikan bisa membuka ruang kreatif peserta didik Dalam bahasa Jawa diistilahkan mlethik dan menjadi orang yang luar biasa Sayangnya pemerintah masih abai dengan hal tersebut Penelitian yang memberi solusi dari problem masyarakat tidak diapresiasi dengan baik.