Berusia 50 Tahun, Golkar Butuh Ketua yang Demokratis

Berusia 50 Tahun, Golkar Butuh Ketua yang Demokratis

Jakarta: Sejumlah kader Partai Golkar menilai partainya membutuhkan regenerasi kepemimpinan. Regenerasi bukan cuma untuk memenangkan Pemilu 2019, tapi juga mencegah terjadi perpecahan dalam tubuh Partai Golkar.

Potensi perpecahan itu dampak kultur tidak demokratis yang sedang berkembang di Golkar. Banyak kader-kader Partai Golkar yang dipecat hanya gara-gara mendukung Jokowi-JK dalam Pilpres 2014.

“Pengkultusan di Partai Golkar semakin hari semakin hari semakin menjadi. Foto yang ada tidak bisa selain foto Ketua Umum Golkar. Ditunjukkan juga pecat-memccat, ancaman-ancaman semakin besar,” kata politikus Partai Golkar Ridwan Mukti.

Di dalam keterangan pers “Mewujudkan Visi 2045 melalui Regenerasi Kepemimpinan Partai Golkar” di Hotel Kartika Candra, Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (30/10/2014), dia menyindir aksi pecat Ketum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie. Pemimpin yang tidak demokratis sudah sepantasnya diganti.

“Harapan banyak orang generasi muda adalah ikon ujung tombak perubahan yang diperlukan. Ubah cara pengelolaan partai yang kita anggap banyak di luar aturan yang ditabrak DPP sekarang,” kata Agus Gumiwang, kader Golkar korban pemecatan Ical.

Hadir pula beberapa petinggi Partai Golkar lainnya seperti Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung, Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono.

Sumber